PENGANTAR ILMU HI PERTEMUAN KEDUA TENTANG INTERPRETASI HUBUNGAN INTERNASIONAL

MATA KULIAH MEMBAHAS TERKAIT PANCASILA

Sejarah Singkat Perkembangan Ilmu Hubungan Internasional

Studi Ilmu Hubungan Internasional pertama kali diperkenalkan pada tahun 1919. Dimana dunia saat itu baru saja dihadapkan dengan Perang Dunia I yang banyak mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan materi. Masyarakat dunia pada saat itu disibukkan dengan usaha- usaha rekonstruksi pasca perang. Keinginan yang kuat untuk tidak akan mengulangi tragedi peperangan tersebut membuat Woodrow Wilson, Presiden Amerika Serikat pada saat itu yang juga merupakan seorang profesor universitas dalam bidang ilmu politik bertekat dalam misinya untuk membawa nilai-nilai demokrati s dan paham-paham L iberali sme (Ideali sme) ke seluruh dunia. Beliau mempercayai bahwa dengan nilai-nilai dan paham tersebut dapat menghindari bencana peperangan di masa depan dan juga dapat mereformasi sistem internasional beserta struktur-struktur domestik negara-negara otokratis.

Atas dasar hal tersebut, Woodrow Wilson menghimbau negara-negara di dunia untuk bekerjasama membentuk suatu organisasi internasional yakni Liga Bangsa-Bangsa (yang sekarang dikenal dengan Perserikatan Bangsa- Bangsa) yang dapat meletakkan hubungan antar negara pada landasan institusional dan diatur oleh seperangkat hukum internasional yang dapat menjaga perdamaian dunia. Pada saat itulah Studi Hubungan Internasional menjadi suatu subyek akademik baru di universitas- universitas Amerika Serikat dan Inggris.

Terdapat empat perdebatan besar sejak HI menjadi subyek akademik dan terus berkembang melihat HI merupakan subyek akademik yang sangat dinamis. Empat perdebatan besar tersebut dikenal juga dengan istilah “The Great Debates” diantaranya :

•Liberalisme Utopian (Idealisme) >< Realisme (1930- 1950)
•Tradisionalisme >< Behavioralisme (1960an)
•Neo-Realisme/Neo-Liberalisme >< Neo-Marxisme (Strukturalisme) (1970-1980an)
Positivis >< Post-Positivis

Debat pertama terjadi dalam kurun waktu 1930-1950an, antara kelompok idealis (utopian liberalism) dengan kelompok realis. Apa yang sebenarnya terjadi sangat terkait dengan kondisi pecahnya Perang Dunia II dan tidak relevannya pemikiran-pemikiran idealis/liberal yang dikemukakan oleh orang-orang seperti Woodrow Wilson, Norman Angell dan Alfred Zimmern. Organisasi internasional yang diprakarsai pembentukannya oleh Wilson pada tahun 1919, Liga Bangsa Bangsa, akhirnya bubar pada tahun 1941 seiring dengan pecahnya Perang Dunia II. Perang Dunia II menunjukkan bahwa kerja sama tidak sepenuhnya terwujud melalui ide saling ketergantungan (interdependence) dan LBB gagal dalam menahan ambisi ekspansionis negara-negara anggotanya. Kaum realis berpandangan bahwa hubungan internasional itu bentuknya konfliktual karena tiap-tiap negara terlibat dalam usaha-usaha untuk mencapai kekuasaan (kepentingan nasional)

Debat kedua di dalam perkembangan SHI terjadi pada dekade 1960an. Debat terjadi antara dua kelompok yang berbeda dalam memahami SHI. Kelompok pertama adalah kelompok tradisionalis, pemikir-pemikir awal SHI yang menekankan pada upaya ‘memahami’ (understanding) HI. Sementara kelompok kedua memiliki fokus yang berbeda, yaitu tentang upaya ‘menjelaskan’ (explaining). Kelompok kedua ini disebut dengan kelompok behavioralis. Selain istilah tradisional vs. behavioralis, istilah lain yang digunakan adalah Tradisionalisme vs. Sains (scientific). Kemunculan kelompok behavioralis ini sangat signifikan terlihat pasca Perang Dunia II. Para ilmuwan yang dikategorikan sebagai behavioralis berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, seperti ilmu politik, ekonomi, bahkan matematika. Hal ini berbeda dengan pemikir HI sebelumnya yang berasal dari kalangan diplomat, ahli sejarah, ahli hukum internasional maupun dari Politisi.

Persoalan ekonomi politik internasional (international political economy-IPE) ini menjadi fokus debat ketiga di dalam Studi HI. Debat terjadi sepanjang dekade 1970-1980an antara kelompok neo- realis dan neo-liberalis dengan kelompok Marxis. Kelompok neo-Marxis menyampaikan kritik kepada kelompok neo- realis dan neo-liberalis terkait dengan ketimpangan ekonomi yang terjadi di dunia. Terinspirasi dari ajaran Karl Marx, mereka berpendapat bahwa ketertinggalan ekonomi di Dunia Ketiga disebabkan oleh dominasi Dunia Pertama. Di dalam sistem ekonomi internasional, yang kapitalis Dunia Ketiga tidak diberikan kesempatan untuk merubah kondisi mereka karena negara-negara Dunia Pertama menginginkan hubungan superior-inferior tetap ada. Kondisi di mana negara-negara Dunia Ketiga hanya berperan sebagai pemasok bahan-bahan baku dan negara-negara Dunia Pertama sebagai produsen manufaktur menyebabkan timbulnya hubungan ketergantungan (dependence) antara Dunia Ketiga terhadap Dunia Pertama.

Kelompok neo-Liberal memiliki pandangan yang kontras sekali dengan kelompok neo-Marxi s . Menurut mereka, ekspans i kapitalisme global diperlukan untuk mencapai kemakmuran dan perdamaian bagi seluruh masyarakat dunia. Kelompok neo-Liberal dalam hal ini, sangat mendukung keberadaan institusi finansial global, negara-negara kaya dan perusahaan multinasional yang dipercaya mampu membantu tercapainya kemakmuran dan perdamaian tersebut. Sementara kaum neo-Realis memiliki pandangan yang berbeda dengan neo-liberal maupun neo-Marxis. Berangkat dari pemikiran merkantilis klasik, di mana peran negara sangat penting dalam menyokong aktivitas perekonomiannya, kelompok IPE realis menekankan pada kekuatan politik (political power) dalam isu-isu perekonomian. Hal ini kemudian dilanjutkan kepercayaan bahwa untuk memperlancar urusan perdagangan bebas diperlukan sebuah kekuatan dominan (hegemonic power). Robert Gilpin bahkan menyebutkan bahwa “tanpa adanya kekuatan yang dominan maka tidak akan tercapai ekonomi liberal”.

Hingga Perang Dingin berakhir, ketiga paradigma ini mencirikan besarnya pengaruh positivisme di dalam Studi HI. Positivisme adalah paham yang terkait dengan upaya membangun pengetahuan dari “eksperimen-eksperimen, observasi, dan deduksi (menggunakan metode saintifik)”. Dunia dalam hal ini adalah obyek penelitian yang bisa diteliti secara objektif, bebas nilai dan tanpa melibatkan perasaan. Di dalam perspektif positivis, teori hanya bertujuan untuk menjelaskan (explanatory): “teori-teori adalah alat untuk menjelaskan dunia dan tergantung dengan bagaimana kecocokan mereka dengan realita, maka teori tersebut bisa dikatakan benar atau salah”. Dominasi positivistik di dalam SHI mulai dipertanyakan oleh pendekatan-pendekatan lain (diisitilahkan dengan pendekatan post- positivis). SHI dalam hal ini, kembali mengalami perdebatan akademik

Di dalam debat keempat ini, yang menjadi fokus perdebatan antara kelompok positivis (ketiga paradigma sebelumnya) dengan kelompok post-positivis, yang diwakili oleh teori kriti s , femini sme, pos t s trukturali sme, postkolonialisme, konstruktivisme dan green politics, adalah hubungan antara teori dengan realita. Bagi kelompok post positivis, penelitian tidak terlepas dari nilai dan bias si peneliti, oleh karena itu setiap teori yang dimunculkan pasti memiliki asumsi yang tersembunyi di dalamnya. Tidak seperti kelompok positivistik yang melihat teori memiliki fungsi penjelas (explanatory), kelompok post-positivistik menganggap teori memiliki s ifat konstitutif (constitutive). Artinya teori itu ada karena mendapat pengakuan dari masyarakat.

Debat 1

Fokus Idealisme

1. Hukum Internasional 2. Organisasi Internasional 3. Interdependensi 4. Kerjasama 5. Perdamaian

Fokus Realisme

1. Power Politics 2. Keamanan 3. Agresi 4. Konflik 5. Peran

Debat 2

Pemahaman Tradisionalisme

1. Norma dan Nilai 2. Penilaian (Judgement) 3. Pengetahuan bersifat historis

Penjelasan Behavioralisme

1. Mengumpulkan data 2. Menguji hipotesis 3. Pendekatan saintifik; kuantitatif

Debat

Fokus Neo-realisme

1.Hegemoni untuk menjamin keberlangsungan sistem kapitalisme
2.Rezim Internasional Neo-liberalisme.

Fokus Neo-liberalisme

1.Pasar Bebas
2.Institusi keuangan internasional

Fokus Strukturalisme

1.Sistem kapitalis merugikan negara-negara Dunia Ketiga
2.Dependensi Dunia Ketiga terhadap Dunia Pertama
3.Keterbelakangan Pembangunan di Dunia Ketiga

Debat

Positivisme Post-positivisme

1.Fenomena sosial bisa dijelaskan melalui penggunaan metode saintifik
2.Pengetahuan obyektif yang didapat melalui pemodelan, teori ataupun konsep adalah kebenaran factual.

Teori yang termasuk kedalam Positivisme:

1.Realisme/Neo-realisme
2.Liberalisme/Neo-liberalisme.
3.Neo-marxisme (Strukturalime)

Post-positivisme

1.Penelitan yang obyektif (bebas nilai) terhadap fenomena sosial sulit tercapai
2.Fenomena sosial tidak bisa diteliti melalui pendekatan saintifik

Teori yang termasuk kedalam Post- positivisme

1.Konstruktivisme
2.Teori Kritis
3.Feminisme
4.Post-strukturalisme
5.Post-kolonialisme
Green Politics


SEJARAH SINGKAT PERKEMBANGAN HUBUNGAN INTERNASIONAL