Kebanyakan orang salah berpersepsi bahwa ilmu dan pengetahuan memiliki kesamaan arti, padahal ilmu dengan pengetahuan
adalah dua hal yang berbeda. Ilmu adalah pengetahuan tetapi tidak
semua pengetahuan adalah ilmu.
Ilmu dan pengetahuan terkadang dirangkum menjadi satu kata
majemuk yang mengandung arti tersendiri. Bahkan dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia ilmu disamakan dengan pengetahuan, sehingga ilmu adalah pengetahuan. Namun jika kata pengetahuan
dan kata ilmu tidak dirangkum menjadi satu kata majemuk atau
berdiri sendiri, akan tampak perbedaan antara keduanya. Berdasarkan asal katanya, pengetahuan diambil dari kata dalam bahasa
Inggris yaitu knowledge. Sedangkan pengetahuan berasal dari kata
Science. Tentunya dari dua asal kata itu mempunyai makna yang
berbeda.
Secara sederhana setiap orang memahami pengetahuan sebagai pemahaman atas pengalaman yang berulang-ulang dialaminya,
kemudian disimpulkan bahwa pengalaman yang dialaminya itu
adalah kebenaran menurut pemikirannya. Pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun, baik mengenai matafisik maupun fisik. Dapat juga dikatakan pengetahuan adalah informasi yang berupa common sense, tanpa memiliki metode, dan
mekanisme tertentu. Pengetahuan berakar pada adat dan tradisi
yang menjadi kebiasaan dan pengulangan-pengulangan. Dalam hal ini landasan pengetahuan kurang kuat cenderung kabur dan samar-samar. Pengetahuan tidak teruji karena kesimpulan ditarik
berdasarkan asumsi yang tidak teruji lebih dahulu. Pencarian pengetahuan lebih cenderung trial and error dan berdasarkan pengalaman belaka (Supriyanto, 2003).
Sementara yang dimaksud dengan ilmu adalah pembentukkan
pemikiran asosiatif yang menghubungkan atau menjalin sebuah
pemikiran dengan kenyataan atau dengan pikiran lain berdasarkan
pengalaman yang berulang-ulang tanpa pemahaman mengenai
kausalitas (sebab-akibat) yang hakiki dan universal.
Dengan perkataan lain, Ilmu adalah akumulasi pengetahuan
yang menjelaskan kausalitas yakni hubungan sebab-akibat dari suatu obyek berdasarkan metode-metode tertentu yang merupakan
suatu kesatuan sistematis, objektif dan rasional.
Dari kedua pengertian tersebut jelas bahwa pengetahuan bukan ilmu, namun pengetahuan merupakan bahan utama bagi terbentuknya ilmu. Selain itu ternyata bahwa pengetahuan tidak secara objektif menjawab pertanyaan tentang keberadaan sesuatu, sebagaimana dapat dijawab oleh ilmu. Dengan lain perkataan pengetahuan baru dapat menjawab pertanyaan tentang “apa”; sedangkan
ilmu dapat menjawab pertanyaan tentang “mengapa”.
Ilmu dapat merupakan suatu metode berfikir secara objektif
(objective thinking), tujuannya untuk menggambarkan dan memberi makna terhadap dunia faktual. Ini diperoleh melalui observasi,
eksperimen, dan klasifikasi. Analisisnya merupakan hal yang objektif dengan menyampingkan unsur pribadi, mengedepankan pemikiran logika, netral (tidak dipengaruhi oleh kedirian atau subjektif).
Ilmu sebagai milik manusia secara komprehensif yang merupakan
lukisan dan keterangan yang lengkap dan konsisten mengenai halhal yang dipelajarinya dalam ruang dan waktu sejauh jangkauan
logika dan dapat diamati panca indera manusia. Ilmu harus ada obyeknya, terminologinya yang khas, metodologinya yang khas, filosofinya yang khas dan teorinya yang khas
(Prajudi 1982:41). ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang
pekerjaan hukum kausal dalam suatu golongan masalah yang sama
tabiatnya, maupun menurut kedudukannya tampak dari luar, maupun menurut bangunannya dari dalam (Moh.Hatta , dalam Bakhtiar, 2005). Ilmu adalah tiap kesatuan pengetahuan, dimana masing-masing bagian bergantung satu sama lain yang teratur secara
pasti menurut asas-asas tertentu ( Van Poelje, 1959:14)
Lebih jauh mengenai ilmu , selalu berusaha memahami alam
sebagaimana adanya hasil-hasil kegiatan keilmuan alat untuk
memprediksi dan mengontrol gejala-gejala alam. Upaya demikian
mudah dimengerti karena pengetahuan keilmuan merupakan sari
penjelasan mengenai kejadian, gejala dan peristiwa alam yang bersifat umum dan impersonal.
Perbedaan antara pengetahuan keilmuan dengan pengetahuan
lainnya seperti seni dan agama dapat dilihat pula dari upaya-upaya
untuk memperoleh ilmu itu sebagaimana uraian berikut ini.
Gejala-gejala yang terdapat di alam semesta ditangkap oleh
manusia melalui panca inderanya, bahkan ada pula yang ditangkap
oleh indera keenam (extra sensory) seperti intuisi. Segala yang ditangkap melalui indera-inderanya dimasukkan ke dalam pikiran
dan perasaan manusia; dengan segala keyakinan atau kepercayaannya ditariklah kesimpulan-kesimpulan yang benar.
Kesimpulan yang benar tersebut akan mengerucut menjadi
pengetahuan ilmu, seni dan agama itu. Dalam upaya mendapatkan
pengetahuan itu dapat dibedakan antara upaya yang bersifat aktif
dan pasif. Upaya aktif meliputi aktivitas melalui penalaran pikiran
dan perasaan, sedangkan upaya pasif mencakup kegiatan melalui
keyakinan atau kepercayaan terhadap kebenaran tentang sesuatu
yang diwartakan misalnya Wahyu Tuhan melalui Nabi, ataupun
pengetahuan dan ilmu yang lainnya. Secara aktif maupun pasif keyakinan atau kepercayaan itu
memegang peranan penting untuk menyatakan dan menerima kebenaran tentang sesuatu, bedanya dalam upaya aktif orang harus
yakin atau percaya terlebih dahulu, sedangkan dalam upaya pasif
tidak perlu yakin atau percaya terlebih dahulu.
Kesimpulan yang benar yang diperoleh melalui alur kerangka
pikiran dengan menggunakan penalaran adalah bersifat logis dan
analitis, sedangkan yang diperoleh melalui perasaan dan hanya melalui keyakinan atau kepercayaan bersifat tidak logis dan tidak analitis. Selanjutnya dari hasil penalaran logis dan anlitis diperoleh
pengetahuan yang disebut ilmu, sedangkan dari perasaan dan
keyakinan atau kepercayaan disebut sebagai pengetahuan seni dan
agama.
Dari uraian tersebut di atas semakin jelaslah posisi dan kedudukan ilmu dalam pengetahuan, perbedaan ilmu dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya. Keterangan lain menyatakan bahwa
upaya aktif untuk memperoleh pengetahuan ilmiah atau ilmu itu,
tidak dilakukan dengan semena-mena melainkan menurut aturanaturan atau metode-metode dan teknik-teknik tertentu. Upaya semacam ini disebut penyelidikan (inquiry) baik empiric maupun
non-empirik. Secara empiric dapat dilakukan dengan penelitian
(research) atau dengan pemeriksaan (investigation); dimana kedua-duanya mempergunakan prinsip-prinsip pengamatan (observasi).
Dunia Islam memasuki musim yang pahit sejak Bush melancarkan kampanye perang melawan terorisme paska peristiwa 11 September 2001. Dunia Islam seolah-olah identik dengan kejahatan internasional. Invasi Iraq dan Afghanistan pun mendapat dukungan internasional. Sementara Dunia Islam banyak dicibir dan jadi guncingan diberbagai pelosok negara. Menghadapi sinisme internasional tersebut Dunia Islam berusaha menemukan teman-teman baru yang diharapkan dapat memahami posisinya. Arab Saudi sebagai negara yang paling banyak dicaci maki oleh pendapat umum di Amerika melakukan serangkaian diplomasi untuk memulihkan citranya yang sempat luntur dimata Barat. Hubungan dengan Cina dan Rusia pun kemudian dijalin dan dalam waktu singkat Arab Saudi kembali menemukan jati dirinya. Ternyata kedua negara tersebut membutuhkan minyak mentahnya. Demikian pula Iran yang selalu dituduh akan mengembangkan senjata nuklir telah lebih dahulu menjalin hubungan dengan kedua negara tersebut. Dalam berjalanya waktu ternyata banyak negara yang tetap memandang Dunia Islam sebagai mitra strategis selaku pemasok minyak mentah dan gas alam. Cina, Rusia, Jepang, dan Amerika sesungguhnya sulit mengabaikan Dunia Islam karena faktor sumber daya alam tersebut. Faktor minyak dan beberapa faktor lain menempatkan Dunia Islam pada posisi yang semakin strategis dalam hubungan internasional saat ini dan dimasa yang akan datang.